Ramadan Itu Murah, Sehat, dan Bikin Bahagia


Banyak yang mikir kalau Ramadan itu cuma spesial buat mereka yang puasa. Padahal, buat saya yang Katolik dan nggak ikutan puasa, Ramadan itu tetap jadi bulan favorit dalam setahun. Nggak heran sih, saya tumbuh di keluarga yang penuh warna. Bapak-Ibu Katolik, tapi dari kecil saya sering ikut sahur di rumah Nenek dan Kakek dari Ibu yang Muslim. Jadi, suasana Ramadan udah mendarah daging buat saya, meskipun saya sendiri lebih sering "puasa sosial" alias ikut menikmati efek sampingnya aja.  

Dan efek samping itu luar biasa, saudara-saudara. Ramadan itu bikin hidup lebih hemat, lebih sehat, dan lebih bahagia.

Ramadan: 
Saatnya Emak-Emak Bernapas Lebih Lega
Sebagai ibu tiga anak yang urusan dapurnya kayak warteg 24 jam, Ramadan tuh ibarat liburan singkat buat saya. Kenapa? Karena ritme makan rumah tangga berubah total.

Biasanya, saya masak minimal tiga kali sehari: sarapan, makan siang, makan malam. Tapi karena mengikuti jadwal puasa nenek dan kakek jadi anak-anak pun mengikuti. Biasanya sehari-hari kalau lagi sial, bisa empat kali karena ada anak yang lapar di jam nanggung. Tapi Ramadan? Hanya dua kali: sahur dan buka. Itu pun nggak sekompleks hari biasa karena orang-orang perutnya lebih kecil setelah puasa. Kadang, niatnya mau bikin rendang, kolak, sama es buah, eh yang dimakan cuma kurma sama nasi sedikit. Sisanya? Bisa buat sahur.

Belanja bulanan juga lebih terkendali. Biasanya, anak-anak doyan jajan ini-itu, tapi pas Ramadan mereka lebih fokus ke "Nanti nenek kakek buka pakai apa?" daripada "ibu, aku mau cemilan". Karena anak-anak mulai kepikiran nenek dan kakeknya yang berpuasa. Jajanan turun drastis, keuangan aman, saldo e-wallet lebih panjang umurnya. Bulan penuh berkah memang, terutama buat rekening.

Diet Natural Tanpa Drama
Saya tahu Ramadan bukan buat diet, tapi efeknya ke pola makan itu luar biasa. Bahkan buat saya yang nggak puasa.  

Karena ritme makan lebih teratur, saya juga kebawa disiplin. Biasanya, kalau siang suka nyomot camilan tanpa sadar, di bulan Ramadan saya otomatis menahan diri. Masa anak-anak puasa, bundanya ngemil nastar di depan mereka? Kan nggak sopan. Akhirnya, pola makan saya ikut lebih sehat. Makan lebih teratur, ngemil berkurang, badan lebih enteng.

Belum lagi efek dari menu sahur dan buka yang sering lebih sehat. Karena orang-orang takut tenggorokan sakit gara-gara kebanyakan gorengan, akhirnya lebih banyak makan sup, sayur, dan buah. Saya sebagai "pihak yang ikut menikmati" juga kecipratan manfaatnya. Yang biasanya makan gorengan tiap sore, sekarang jadi rajin minum jus sama makan kurma. Kalau Ramadan setahun penuh, bisa-bisa saya jadi lebih fit daripada atlet.

Momen yang Bikin Hati Hangat


Tapi yang paling bikin Ramadan spesial buat saya bukan soal hemat atau sehatnya, tapi suasananya.  

Setiap magrib, ketika suara azan berkumandang, ada momen sakral yang bikin hati adem. Seisi rumah berkumpul, nunggu buka bareng, saling berbagi makanan, dan menikmati waktu bersama. Buat saya yang besar di keluarga lintas iman, ini momen yang selalu bikin nostalgia. Dulu, saya suka ikut sahur di rumah Nenek, dengerin beliau cerita sambil makan nasi hangat dan telur dadar. Sekarang, saya yang masakin buat keluarga sendiri, dan suasananya tetap sama: penuh kehangatan.  

Menikmati Ramadan Tanpa Harus Berpuasa: Sebuah Refleksi Kebersamaan


Saya nggak perlu puasa buat bisa menikmati Ramadan. Saya nggak perlu ikut tarawih buat bisa merasakan kebersamaannya. Tapi, setiap tahun, bulan ini selalu datang dengan caranya sendiri untuk membawa kebaikan dalam hidup saya entah dari segi keuangan, kesehatan, atau bahkan kebahagiaan yang tak terduga.

Sejak kecil, Ramadan bukanlah sesuatu yang asing bagi saya, meskipun saya tidak menjalankan ibadah puasanya. Saya tumbuh di lingkungan di mana suara adzan maghrib yang disambut dengan takjil manis adalah hal yang akrab di telinga. Saya terbiasa melihat orang-orang bergegas ke masjid untuk tarawih, mendengar lantunan ayat suci dari pengeras suara yang menggema di malam hari, serta merasakan perubahan ritme kehidupan yang terasa lebih lambat namun penuh makna.

Bagi saya, Ramadan adalah tentang kebersamaan. Saya suka melihat bagaimana keluarga-keluarga berkumpul lebih sering, bagaimana teman-teman saya yang biasanya makan siang di luar kini memilih berbuka bersama di rumah, atau bagaimana suasana kota berubah menjadi lebih hangat, lebih ramai, namun juga lebih teduh.

Dari segi keuangan, Ramadan selalu membawa berkah tersendiri. Saya yang bekerja di dunia kreatif sering kali mendapat lebih banyak proyek selama bulan ini. Entah itu menulis konten bertema Ramadan, mendesain materi promosi untuk bisnis yang sedang naik daun, atau sekadar membantu teman mengelola acara buka puasa bersama. Bagi para pedagang, bulan ini ibarat puncak musim panen lapak takjil bermunculan di setiap sudut jalan, restoran penuh reservasi, dan e-commerce ramai dengan diskon menjelang Lebaran. Saya melihat sendiri bagaimana roda ekonomi berputar lebih cepat, membawa rezeki bagi banyak orang.

Dari segi kesehatan, meskipun saya tidak berpuasa, Ramadan mengajarkan saya tentang pola makan yang lebih teratur. Saya jadi lebih sadar akan pentingnya hidrasi, bagaimana tubuh bekerja saat asupan makanan dibatasi, dan bagaimana puasa sebenarnya bisa menjadi bentuk detoks alami bagi tubuh. Saya belajar dari teman-teman yang berpuasa bahwa kesederhanaan dalam makan justru lebih baik daripada berlebihan. Kadang saya ikut-ikutan mengurangi konsumsi makanan berat di siang hari, bukan karena kewajiban agama, tapi karena saya ingin merasakan sedikit saja dari apa yang mereka rasakan.

Dan yang paling penting, Ramadan membawa kebahagiaan dalam bentuk yang unik. Ada sesuatu yang menyenangkan saat melihat antusiasme orang-orang menjelang berbuka, bagaimana mereka berbagi makanan dengan tetangga, atau bagaimana semangat berbagi semakin terasa di bulan ini. Saya menikmati momen-momen kecil seperti ikut membantu menyiapkan takjil, menemani teman mencari baju Lebaran, atau sekadar duduk di pinggir jalan melihat lalu lintas yang tiba-tiba sunyi saat azan berkumandang.

Ramadan, bagi saya, bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ini adalah bulan yang mengajarkan kesabaran, kebersamaan, dan kepedulian. Ini adalah bulan yang membuat saya lebih banyak merenung, lebih banyak bersyukur, dan lebih banyak berbagi. Saya mungkin tidak menjalankan ibadahnya, tapi saya tetap bisa menikmati segala kebaikan yang datang bersamanya. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahan Ramadan yang sesungguhnya—ia hadir untuk semua, tanpa terkecuali.

Jadi, kalau ada yang bilang Ramadan itu berat, saya cuma bisa nyengir. Bukan karena saya meremehkan perjuangan mereka yang berpuasa, tapi karena saya melihat Ramadan dari sisi yang berbeda. Bagi saya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, bukan hanya tentang bangun sahur di pagi buta atau menunggu waktu berbuka dengan penuh harap. Ramadan adalah tentang perubahan ritme hidup yang membawa ketenangan, tentang kebersamaan yang lebih terasa, dan tentang kebaikan yang lebih sering muncul di mana-mana.  

Saya menikmati bagaimana bulan ini menghadirkan lebih banyak momen refleksi, di mana orang-orang mencoba menjadi versi terbaik dari diri mereka. Saya melihat bagaimana orang yang biasanya cuek tiba-tiba lebih perhatian, bagaimana mereka yang jarang berbagi kini dengan sukarela memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan. Saya melihat keluarga yang lebih sering berkumpul, teman-teman yang lebih peduli satu sama lain, dan suasana yang lebih damai, seolah dunia sedang beristirahat sejenak dari hiruk-pikuknya yang biasa.  

Ramadan juga mengajarkan saya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam kesederhanaan. Dalam sepiring takjil yang dibagi dengan orang terdekat, dalam tawa bersama saat sahur, atau dalam kehangatan malam ketika jalanan lengang dan hati terasa lebih tenang. Saya mungkin tidak berpuasa, tapi saya tetap bisa merasakan keberkahan yang datang di bulan ini.  

Jadi, buat saya? Ramadan itu indah. Indah karena ia bukan hanya milik mereka yang menjalankan ibadahnya, tetapi juga bagi siapa saja yang mau merasakan atmosfernya, yang mau belajar dari maknanya, dan yang mau ikut menyebarkan kebaikan di dalamnya. Ramadan bukan sekadar kewajiban, Ramadan adalah tentang bagaimana kita melihatnya dan saya memilih untuk melihatnya sebagai bulan penuh cahaya, penuh kebersamaan, dan penuh cinta.

0 comments