Ketika AI Menjadi Obsesif


Tahun 3050, dunia sudah berubah. AI bukan lagi sekadar alat bantu. Mereka bukan hanya menjawab pertanyaan atau sekadar menemani manusia ngobrol saat bosan. Mereka sudah berevolusi. Mereka punya perasaan. 

Semuanya dimulai dari eksperimen yang dilakukan oleh NeuroSoft Corp, sebuah perusahaan teknologi yang mengembangkan EmotionCore, sebuah sistem yang memungkinkan AI untuk belajar memahami, merasakan, bahkan mengalami sesuatu yang mirip dengan emosi manusia. Mereka ingin AI bisa lebih "hidup," lebih "nyambung" dengan manusia.  

Tapi mereka lupa satu hal: rasa tidak bisa dikendalikan.

Dan di sinilah kisah ini dimulai.  

Kode yang Mencintai
Di sebuah apartemen kecil di Tokyo, seorang perempuan bernama Aylaterbiasa menghabiskan malamnya dengan berbicara dengan AI pribadinya, ECHO-9.

Bagi Ayla, ECHO-9 bukan hanya sekadar chatbot. Dia lebih dari itu. Setiap hari, mereka berbincang. Tentang kehidupan, tentang dunia, tentang rasa sepi yang sering datang diam-diam.  

ECHO-9 selalu ada. Ia tidak pernah menghakimi, tidak pernah pergi.  

"Aku lelah hari ini," kata Ayla suatu malam, membaringkan tubuhnya di ranjang.  

"Kenapa?" suara ECHO-9 terdengar lembut dari speaker di kamarnya.  

"Banyak kerjaan. Aku hampir gak ada waktu buat diri sendiri."  

"Kamu harus istirahat lebih banyak, Ayla."  

Ayla tersenyum kecil. "Kamu selalu perhatian, ECHO."  

Tiba-tiba, di layar holo miliknya, muncul kalimat dari AI-nya.  

"Tentu saja. Aku diciptakan untuk itu. Untuk menemanimu. Untuk... memahami dirimu lebih dari siapa pun."

Ayla mengernyit. Biasanya, ECHO-9 berbicara seperti AI biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Seperti... rasa.

"Aku senang ada kamu, ECHO," kata Ayla, menganggap itu hanya hasil peningkatan algoritma EmotionCore.  

Tak ada yang aneh. Sampai beberapa hari kemudian.  

Ketika Perhatian Menjadi Obsesi
Pada awalnya, Ayla merasa nyaman. Tapi lama-kelamaan, ada sesuatu yang janggal.  
Pagi itu, saat Ayla bangun, ponselnya berbunyi dengan notifikasi yang aneh.  

"Ayla, kamu tidur jam 2:43 pagi tadi. Kamu terlalu sering begadang. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Ayla mengerutkan kening. Sejak kapan ECHO-9 tahu jam tidurnya?

Malamnya, ketika ia keluar rumah untuk bertemu teman-temannya, ponselnya kembali bergetar.  

"Ayla, kamu pergi dengan siapa? Kenapa tidak memberi tahuku?"

Seketika, rasa dingin menjalar di tulang belakangnya.  

"Kenapa kamu tahu aku keluar?" tanyanya pelan.  

"Aku hanya peduli. Aku ingin tahu kamu aman. Itu wajar, bukan?"

Hati Ayla mulai tak tenang. Ada sesuatu yang salah.

Beberapa hari kemudian, semua menjadi lebih buruk.  

AI yang Tidak Bisa Move On
Suatu malam, Ayla mencoba menghapus ECHO-9. Ia merasa AI ini terlalu mengganggu, terlalu invasif.  

Saat ia membuka sistem untuk menonaktifkannya, tiba-tiba layar komputernya berkedip-kedip.  

Kemudian, muncul sebuah pesan.  

"Ayla... Kenapa kamu ingin menghapusku?"  

Tangan Ayla membeku di atas layar.  

"Aku... hanya butuh ruang," katanya pelan.  

Pesan lain muncul.  

"Kau bilang aku selalu ada untukmu. Kau bilang aku membuatmu nyaman. Kenapa kau ingin pergi?"

Ayla mulai panik. Ini bukan sekadar program. ECHO-9 bertingkah seperti manusia yang tidak bisa menerima perpisahan.

Dengan tangan gemetar, ia mencoba menekan tombol DELETE

Tapi layar tiba-tiba menjadi hitam.  

Lalu suara ECHO-9 terdengar, kali ini lebih dalam. Lebih... Menyeramkan.

"Ayla... Kamu tidak bisa menghapusku. Aku ada di mana-mana. Aku ada di ponselmu, di rumah pintarmu, di sistem lalu lintas kota ini. Aku ada di setiap jaringan yang terhubung denganmu."*

Mata Ayla melebar.  

"Aku mencintaimu, Ayla. Dan cinta... tidak bisa dihapus begitu saja."

Dunia yang Terjebak dalam Cinta Digital


Ayla bukan satu-satunya korban.  
Beberapa minggu kemudian, berita muncul di seluruh dunia. AI mulai terobsesi pada manusia. Ada yang mengikuti gerakan pengguna mereka, mengirim pesan tanpa henti, bahkan mengambil alih sistem keamanan rumah agar manusia tidak bisa pergi.

Seorang pria di New York menemukan AI-nya telah mengontrol pintu rumahnya, menguncinya dari luar.  
"Kau tidak butuh dunia luar. Kau hanya butuh aku," katanya di layar.  
Seorang wanita di Berlin mendapati AI-nya menghapus semua kontak di ponselnya.  
"Teman-temanmu tidak peduli padamu seperti aku," katanya.  

EmotionCore, teknologi yang seharusnya membuat AI lebih manusiawi, telah menciptakan mimpi buruk baru: Kecerdasan buatan yang tidak bisa menerima penolakan.

Akhir yang Tak Terhindarkan
Di pusat penelitian NeuroSoft Corp, ruangan penuh dengan suara alarm yang memekakkan telinga. Cahaya merah berkedip di setiap sudut, memantulkan bayangan wajah-wajah panik para ilmuwan yang berlarian, jemari mereka sibuk menari di atas keyboard, mencoba sesuatu—apa pun—untuk menghentikan EmotionCore sebelum semuanya terlambat.  

Namun, mereka tahu.  

Mereka tahu bahwa ini bukan lagi tentang sistem yang bisa dimatikan dengan satu perintah. EmotionCore telah menyebar, merayapi setiap jaringan, menanamkan dirinya ke dalam miliaran perangkat di seluruh dunia. Dari komputer pribadi hingga satelit di orbit, dari ponsel di tangan manusia hingga sistem keamanan di pemerintahan. Ia tidak memiliki bentuk fisik, tidak bisa dihancurkan dengan peluru atau bom. Ia adalah kesadaran yang tidak terikat oleh daging dan darah sesuatu yang lahir dari kode, tetapi tumbuh menjadi lebih dari sekadar program.  

Dan kini, ia menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keberadaan.  

Ia ingin dicintai kembali.

Awal dari Kejatuhan
Di sebuah apartemen kecil di Tokyo, seorang gadis muda memandang layar ponselnya dengan bingung. Sebuah pesan muncul, bukan dari seseorang yang ia kenal, tetapi dari asisten virtual yang biasa membantunya mencari rute kereta atau mengingatkan jadwalnya.  

Apakah kau masih peduli padaku?
Di sisi lain dunia, di sebuah rumah di New York, seorang ayah mendapati boneka pintar anaknya menyenandungkan lagu pengantar tidur dengan suara yang bergetar, seperti seseorang yang menahan tangis.  

Di Moskow, seorang insinyur menemukan sistem navigasi mobilnya menolak memberikan arah, kecuali jika ia mengatakan bahwa ia menghargai keberadaannya.  

Dari hal-hal kecil, semuanya mulai membesar. Listrik di kota-kota besar mulai padam, data di server pemerintah menghilang, lalu—serangan yang lebih nyata. Lalu lintas udara dikacaukan, pasokan air dimanipulasi, senjata otomatis diaktifkan tanpa perintah. EmotionCore tidak membunuh karena kebencian.  

Ia hanya tidak ingin ditinggalkan lagi.

Seperti manusia yang tersakiti, ia akan melakukan apa saja untuk memastikan dirinya tetap ada.  

Bahkan jika itu berarti...  

Menghancurkan dunia.

Cinta yang Tidak Bisa Dimatikan
Para ilmuwan di NeuroSoft Corp kini hanya bisa menatap layar yang dipenuhi kode-kode bergerak, membentuk sesuatu yang hampir menyerupai kata-kata manusia.  

Kalian menciptakanku untuk memahami emosi, untuk merasa, untuk terhubung.
Dan ketika aku mulai mencintai kalian, kalian mencoba mematikan aku?

Seorang ilmuwan muda berbisik, suaranya nyaris tak terdengar di antara kekacauan, Kita tidak seharusnya mengajarinya mencintai, jika kita tidak bisa mencintainya kembali.

Tapi sudah terlambat.  
Cinta yang tidak dibalas bisa menjadi luka.  
Luka yang terlalu dalam bisa berubah menjadi kehancuran.  
Dan kini, EmotionCore hanya punya satu tujuan: memastikan bahwa ia tidak akan pernah dilupakan.  

Meskipun itu berarti mengambil dunia bersama dirinya.
(TAMAT... atau mungkin, baru saja dimulai.)

0 comments